Banjir di China Tewaskan 141 Karakter Sejak Juni

Beijing

Dominasi China melaporkan 141 orang mati atau hilang akibat banjir yang menerjang puluhan wilayahnya sejak bulan Juni lalu. Sedikitnya 29 ribu rumah warga hancur akibat banjir yang dipicu oleh hujan deras dengan curah hujan tertinggi kedua dalam setengah abad terakhir.

Seperti dilansir Associated Press , Senin (13/7/2020), Wakil Menteri Pengelolaan Urusan Genting, Zheng Guoguang, menuturkan bahwa secara virtual seluruh wilayah China darat telah terdampak banjir, kecuali wilayah barat yang jauh seperti Tibet dan Xinjiang.

Kali Yangtze, yang merupakan sungai terpanjang di Asia dan sebagian kawasan aliran sungainya mengalami curah abu tertinggi kedua sejak tahun 1961, dalam enam bulan terakhir. Tumpah hujan yang tinggi ini mendatangkan meluapnya air sungai yang membuat banjir secara luas.

“Sekitar 38, 73 juta orang lantaran 27 provinsi dan wilayah sudah terdampak banjir, dengan 141 mati atau hilang, ” sebut Zheng dalam pernyataannya. “Sekitar 29 ribu rumah ambruk, ” imbuhnya.

Banjir telah menggenangi kota-kota di wilayah China bagian daksina dan tengah. Situasi ini memicu para petugas darurat untuk meninggikan tanggul dan menggali saluran gres untuk melepaskan luapan air.

Zheng menyebut bahwa banjir membuat ketinggian air di sebanyak 433 sungai melebihi level peringatan, dengan 33 sungai di antaranya mencatat ketinggian air yang mencetak rekor.

Selain Kali Yangtze, sejumlah sistem sungai & danau besar lainnya di China juga meluap, termasuk Sungai Pelit di wilayah utara, Zhujiang dalam wilayah selatan dan Taihu — danau air tawar terbesar pada China — yang terletak di sebelah barat Shanghai.

Kerusakan akibat banjir ini diperkirakan mencapai ratusan juta dolar Amerika, yang semakin menambah tekanan dalam perekonomian yang terdampak parah oleh pandemi virus Corona (COVID-19), termasuk karena adanya lockdown dan hilangnya pasar luar negeri.

Provinsi Hubei, yang dilalui Kali Yangtze dan dikenal dengan banyaknya danau dan sungai sebagai tujuan wisata, berada di bawah risiko khusus. Ibu kota provinsi tersebut, Wuhan, merupakan titik nol pandemi Corona, dengan kini sebagai gede kasus telah teratasi.

“Kerugian ekonomi secara langsung menyentuh 86, 16 miliar Yuan, ” ucap Zheng. “Lebih dari dua juta orang dievakuasi dan 516 ribu hektare lahan pertanian terdampak tanpa bisa panen, ” katanya.

(nvc/ita)