Kemlu Pastikan Tak Ada WNI Jadi Korban Penembakan Sembrono di California

Jakarta porakporanda Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI memastikan tak ada warga negara Indonesia yang menjadi korban penembakan massal di California Selatan, Amerika Serikat. Kemlu mengingatkan WNI di AS selalu perdata.

“Konjen RI LA menginfokan tidak ada korban WNI, ” kata Jubir Kemlu RI, Teuku Faizasyah, saat dimintai konfirmasi, Jumat (2/4/2021).

Penembakan brutal itu sendiri terjadi di salah satu gedung perkantoran di California Daksina, AS, Rabu (31/3). Empat orang, termasuk seorang bujang, tewas dalam peristiwa itu.

Kembali ke Faizasyah. Dia mengatakan Kemlu, lewat Komjen RI pada Los Angeles, telah mengeluarkan imbauan agar WNI pada sana waspada. Imbauan tersebut telah dikeluarkan sejak terjadi serangan terhadap orang-orang Asia.

“Imbauan dengan sudah dikeluarkan sebelumnya terpaut kewaspadaan akibat meningkatnya peristiwa kekerasaan terhadap orang Asia, ” ucapnya.

Sebelumnya, dilansir dari pejabat berita AFP, Kamis (1/4), pelaku penembakan terluka usai baku tembak dengan petugas dan dibawa ke sendi sakit. Pelaku kini dilaporkan kritis di rumah lara. Sejauh ini, motif penembakan itu belum diketahui.

Polisi tidak merilis informasi lebih lanjut mengenai para korban, tetapi mengatakan ada satu korban yang lain yang dirawat di rumah sakit.

Kejadian itu dimulai sekitar jam 17. 30 waktu setempat di lantai atas suatu gedung perkantoran kecil di kota Orange.

Juru bicara Kepolisian Warna orange, Letnan Jennifer Amat, mengucapkan bahwa tembakan dilepaskan saat polisi tiba di kedudukan, usai mendapat laporan soal adanya tembakan. Amat menyebut polisi sempat terlibat pokok tembak dengan pelaku setibanya di lokasi.

Kepolisian Orange memastikan pelaku menewaskan empat orang, tercatat seorang anak yang tidak disebut usianya, dalam penembakan ini. Satu orang yang lain, yang berjenis kelamin perempuan, mengalami luka-luka dan kini dilaporkan dalam kondisi gawat.

Penembakan brutal ini terjadi setelah dua penembakan massal lainnya pokok bulan ini, yang membuat perdebatan baru tentang langkah-langkah pengendalian senjata di Amerika Serikat.

Sebelumnya pada 22 Maret lalu, 10 orang tewas dalam penembakan massal di suatu supermarket di Boulder, Colorado. Kejadian itu terjadi kurang dari seminggu setelah seorang pria menembak dan mematikan delapan orang, termasuk enam wanita keturunan Asia, di sejumlah panti pijat dan spa di Atlanta, Georgia. (haf/gbr)