Saksi Ini Diminta Stafsus Edhy Ambil Duit Rp 750 Juta untuk Bayar Rumah

Jakarta

Seorang wiraswasta bernama Iwan Febrian mengaku pernah diminta staf khusus (stafsus) Edhy Prabowo, Andreau Misanta Pribadi, mengambil uang dari seseorang sebesar Rp 750 juta. Iwan menyebut uang tersebut untuk untuk membayar utang.

Hal itu disampaikan Iwan saat menyungguhkan dalam kasus suap ekspor benur di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Luhur Raya, Jakarta Pusat, Selasa (18/5/2021). Iwan hadir dengan virtual. Iwan mengenal Andreau di restorannya dan dikenalkan mentornya yang juga mantan stafsus di Kementerian Kelautan dan Perikanan.

“Itu sekitar November 2019. Jadi saya punya warung makan Padang, belum restoran. Terus di sana tuh banyak tamu duduk-duduk, salah satunya Pak Andreau, ” kata Iwan dalam persidangan.

“Beliau caleg PDIP di Jakarta apa di mana beta lupa, caleg gagal. Nggak duduk, ” imbuhnya.

Iwan juga mengirimkan kalau dirinya pernah ditelepon Andreau. Ditelepon itu Iwan diminta untuk bertemu dengan teman Andreau bernama Anton. Dari sana, Anton mencatat tas agar disampaikan kepada Andreau.

“Benar, pernah pak. Itu ceritanya tanggal 7 Juli kalau nggak salah, saya ditelepon oleh Pak Andreau, mengambil tolong ketemu orang, ketemu temannya. Waktu itu beta sedang berada di Glodok. Terus saya langsung lah ketemu orang tersebut, dengan ternyata itu Pak Anton. Pak Anton ini sudah saya ketemu waktu Desember atau Januari, saya lalai, ketemu sama dia. Dia kasih tas, tolong titipkan ke Andreau, di Hotel Sahid, di kafenya, buntut, ” jelasnya.

Iwan sempat marah pada Andreu karena dilibatkan di urusan ini. Andreau kata pendahuluan Iwan mengatakan tidak tersedia orang lain lagi yang bisa dimintai bantuan.

“Saya langsung telepon Pak Andreau, ‘Bang tersebut jangan suruh-suruh saya gini, karena kan saya nggak pernah disuruh Bang Andreau urusan seperti ini selain urusan kita, paling bisnis belanja-belanja ikan, nggak ada urusan kita yang lain, apalagi nyebut uang, ” ungkap Iwan.

“Langsung saya telepon Kakak Andreau dan langsung kami marah ke Bang Andreau waktu itu. Terus Akang Andreau langsung bilang, ‘Bro, gua lagi di luar kota, nggak ada lagi orang yang minta tolong, ini buat bayar utang. Setahu saya Bang Andreau memang punya utang. Tempat pernah cerita utang tempat kampanye. Jadi saya berpaham oh ini uang nggak tau dia pinjam sejak mana, terus dia ngutang, terus dia minta tolong, saya bayarkan, ” lanjutnya.

Iwan membicarakan tas tersebut berisi uang Rp 750 juta. Anton, kata Iwan juga menyampaikan akan ada uang yang dititipkan lagi sebesar Rp 250 juta, namun bakal ditransfer.

“Iya (uang), dia mengatakan isinya Rp 750 juta. Langsung dia bilang juga nanti Rp 250 jutanya lagi hari Jumat, ” sirih Iwan.

Iwan meminta temannya, Ade, untuk mentransfer uang itu melalui bang. Dia mengatakan uang itu untuk pemilik panti di Cilandak.

“Saya langsung antarkan Ade ke bank karena aku ada urusan. Saya suruhan transfer ke rekening yang disuruh Bang Andreau. Aku lupa (atas nama siapa). Cuma penyidik sudah sejumlah atas namanya, itu ke orang yang punya vila di Cilandak, ” jelasnya.

Jaksa sempat menanyakan apakah rekening yang diberitahukan Andreau atas nama Yusuf. Iwan mengaku tak ingat terkait nama bon itu, yang dia terang dari penyidik uang itu untuk keperluan membayar vila di Cilandak.

“Langsung kita transfer, memasukkan tunai ke bank tepat ke nomor yang dikasih Andreau, bank BCA. Beritanya waktu itu saya kurang ingat, pokoknya bayar rumah gitu. Bayar rumah barang apa saya nggak ngeh, ternyata bayar rumah Cilandak, ” ucapnya.

(run/eva)