Surah Al Furqan Ayat 63, Siapa yang Disebut Hamba Allah pada Ayat Ini?

Jakarta

Seringkali kita menyebut diri kita sebagai hamba Allah. Bagaimana sebenarnya ciri dari seorang hamba Allah itu? Firman Allah dalam surah Al Furqan yang ke-63 menjelaskan salah satu ciri seseorang yang disebut dengan hamba Allah Yang Maha Penyayang atau Ibadurrahman.

Berikut ini bunyi bacaan QS. Al Furqan ayat 63 beserta dengan artinya:

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

Bacaan latin: Wa ‘ibādur-raḥmānillażīna yamsyụna ‘alal-arḍi haunaw wa iżā khāṭabahumul-jāhilụna qālụ salāmā

Artinya: “Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan “salam,” (QS. Al Furqan: 63)

Melansir dari Tafsir Kementerian Agama (Kemenag), kandungan surah Al Furqan ayat 63 ini berisi tentang ciri-ciri dari Ibadurrahman atau hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih. Ciri Ibadurrahman ini salah satunya adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan tidak dibuat-buat.

Orang tersebut berjalan dengan wajar, tidak menyombongkan diri dalam sikap maupun tindakan. Sebab dia tahu bahwa sikap itu tidak terpuji dan mengakibatkan hal-hal yang negatif dalam pergaulan.

Bahkan disebut pula, bila ada orang yang datang menghina dan berkata kasar padanya, ia tidak akan membalasnya dengan ucapan serupa. Justru dibalasnya dengan penuh sopan dan rendah hati sambil mengucapkan salam.

Hal tersebut sebagaimana dengan sikap Rasulullah SAW saat ia diserang dan dihina dengan kata-kata yang kasar. Beliau tetap berlapang dada dan tetap menyantuni orang-orang yang menhinanya tersebut.

Berdasarkan penjelasan dari Surah Al Furqan ayat 63, buku Kun ‘Ibadurrahman’ yang ditulis oleh Muhammad Farid Wajdi, Lc. merangkum orang-orang yang disebut sebagai Ibadurrahman atau hamba Allah Yang Maha Pengasih di antaranya adalah:

1. Orang yang senantiasa hidup dalam ketaatan kepada Allah. Tidak pernah menunda-nunda untuk beribadah dan beramal sholeh. Kemudian, menjadikan ridho Allah sebagai tujuan utama dan sangat berharap untuk berjumpa dengan-Nya;

2. Orang yang senantiasa setia pada nasihat Rasulullah dan menjadikan Rasul sebagai suri tauladan. Mencintai keluarga beserta para sahabat beliau dan rindu untuk bertemu bersama Rasul kelak di surga;

3. Orang yang senantiasa rendah hati bukan menyombongkan diri. Serta menyayangi bukan untuk membenci sesama. Ia juga merupakan orang yang banyak menebarkan manfaat hingga mewariskan kebaikan untuk umat dan menjadi amal jariyah.

Semoga kita semua termasuk dari golongan orang yang pantas disebut dengan hamba Allah seperti dalam Surah Al Furqan ayat 63 ini ya, sahabat hikmah. Aamiin.

(erd/erd)